-Peri Kamar-
Monday, May 14, 2012
Selamat Ulang Tahun, Empat!
ada mata yang bergairah
dengan langkah tak terarah
tulang-tulangnya pun masih lemah
tapi dunia sudah tinggal sebelah
tubuh mungil akhirnya terlelap
bunda memeluk dalam malam senyap
tangisan tiba-tiba meluap
setelah sekian lama dibiarkan menguap
tegar menjalani takdir yang berat
cinta yang sempurna semakin melekat
ketidaksempurnaan tunas kuat
ada bisikan "selamat ulang tahun pertama, anakku hebat"
doa dan janji dibaur dalam air mata
"suatu hari kan kuberi kebahagian yang sempurna"
beberapa kata dalam harapan yang seluas angkasa
memecah duka yang tanpa jeda
...
"selamat ulangtahun keempat, cinta"
harapan yang dikabulkan dalam nyata
tetap ada air mata, tapi ini bahagia
dunia!
dengan langkah tak terarah
tulang-tulangnya pun masih lemah
tapi dunia sudah tinggal sebelah
tubuh mungil akhirnya terlelap
bunda memeluk dalam malam senyap
tangisan tiba-tiba meluap
setelah sekian lama dibiarkan menguap
tegar menjalani takdir yang berat
cinta yang sempurna semakin melekat
ketidaksempurnaan tunas kuat
ada bisikan "selamat ulang tahun pertama, anakku hebat"
doa dan janji dibaur dalam air mata
"suatu hari kan kuberi kebahagian yang sempurna"
beberapa kata dalam harapan yang seluas angkasa
memecah duka yang tanpa jeda
...
"selamat ulangtahun keempat, cinta"
harapan yang dikabulkan dalam nyata
tetap ada air mata, tapi ini bahagia
dunia!
Saturday, February 18, 2012
Thursday, January 26, 2012
Apa Kabar Ibu?
kepada Ibu,
bagaimana kabarmu disana?
jarak kita jauh terbentang dunia
mungkin kau akan lupa tentang aku
atau mengingatku hingga ingatan yang meninggalkanmu?
aku akan membantumu membayangkan
aku seharusnya sudah memasuki usia remaja
gadis manis yang sedang jatuh cinta
bercerita padamu tentang bagaimana perasaan hati
menyukai diam-diam pengisi hati
dalam gundah rindu yang tak terkendali
dan nasehatmu lentera yang mengawali
kumundurkan pada enam tahun yang lalu
harusnya bibir dan jemarimu sedang menuntunku
belajar mengenal kata dan mengeja
hingga aku mahir membaca
menuliskan puisi tentang kekagumanku untuk ibu
sebuah perjuangan, merawat suatu nyawa
yang darah dan nafasku sebagian diambil dari milikmu
senyumanku serupa lengkungan senyum di wajahmu
memamerkan pada teman dan seisi dunia
ibu, idolaku yang sempurna
apa kabar kekasihmu, Ibu?
sosok yang mengisi hatimu begitu penuh
hingga aku harus bersembunyi di sela-sela itu
agar ada aku di bagian itu
dari cintamu padanya, aku ada
dari cintamu padanya, aku hilang
hingga akhirnya dia yang menghilang
dan ibu, sendiri dalam sunyi
tak ada lagi yang dimiliki
apakah kini sudah mulai mengingat tentang aku?
raga yang hangat memelukmu
mendengarkan alunan tangismu
detak jantungmu yang menemaniku disisi
dan ketika saat itu juga..
raga ini diakhiri, di dalam ragamu
aku pilu!
bagaimanamu hidupmu kini wahai ibu?
setelah melepasku dan engkau dilepasnya..
Kesal!
Dalam layar bisu
ada kata yang dipaksa beku
merajalah palsu
Lalu tertawa
tak ada yang tau luka
tertutup canda
Rasa tak terkirimkan
dalam jemari tak asal tekan
kamu aman
Monday, January 9, 2012
Evolusi
Muak jadi manusia
lalu menjelma
setan-setan bingung,
dirinya jadi berlipat tiga..
Genangan sudah setengah tubuhnya
darah siapa lagi yang bisa menjangkau lehernya?
setan-setan menutup muka,
itu bukan dirinya..
Manusia hilang
populasi bumi malah semakin padat
setan-setan frustasi,
posisinya telah terganti..
Subscribe to:
Posts (Atom)